Mungkinkah Search Engine Gatotkaca Indonesia Terwujud?

Immaku.com – Mungkinkah Search Engine Gatotkaca buatan Indonesia akan terwujud seperti keinginan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia?

Keputusan Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan blokir terhadap situs ternama belakangan ini cukup membuat gaduh masyarakat.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Jhonny Gerrad Plate, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan memiliki Search Engine sendiri bernama Gatotkaca.

Ini menunjukkan kominten Kominfo yang terus-terus melakukan pemblokiran sejumlah website atau platform yang belum terdaftar di PSE Lingkup Privat.

Jika ada sebuah situs yang tidak ingin mendaftarkan di PSE Kominfo, kata Jhonny, maka Indonesia akan membuat situs itu sendiri.

“Harusnya bisa. Saya, bukan saja aplikasi Instagram. Tapi Search Engine pun harus bisa kita buat,” ucap Menteri Kominfo saat menjadi tamu undangan Channel Deddy Corbuzier.

“Saya pada saat jadi Menteri pertama saya panggil, Tim! Bisa nggak kita bikin search engine? Name it Gatotkaca,” tambah Menteri Kominfo tersebut.

Pernyataan tersebut sontak mendapatkan beberapa respon dari netizen. Salah satunya dari akun TikTok @fuaditrockz.

Fuadit Muhammad atau @fuaditrockz merupakan salah satu konten kreator di TikTok yang sering membuat video edukasi tentang dunia IT.

Fuadit membuat merespon pernyataan tersebut dengan membuat video TikTok yang di upload di akun pribadinya.

Dalam videonya, Fuadit menyebutkan kalau kunci utama dari search engine atau mesin pencari adalah indexing.

“Sekarang mari kita bayangkan jika sebuah website adalah sebuah Hypothetical Database,” ucap Fuadit dalam video tersebut.

Fuadit memberikan contoh dengan tiga data dalam sebuah table database. Masing-masing table tersebut yaitu Konten dan URL.

Table Konten berisi kata kunci yang ada di dalam sebuah website. Sedangkan table URL berisi alamat dari website tersebut.

Ia sudah mempunyai 3 data dengan kata kunci ‘Nasi Padang’, ‘Nasi Kuning’, dan ‘Sate Padang’. Dengan URL masing-masing.

Fuadit juga sudah membuat contoh website search engine yang mempunyai tampilan mirip dengan Google dengan nama Gatotkaca.

Lalu, ia mencoba untuk mencari dengan kata kunci ‘Nasi Padang’. Dan hasilnya muncul URL sesuai dengan yang di masukkan di database sebelumnya.

Akan tetapi, menurut Fuadit hal tersebut masih buruk dan jauh dari kata search engine. Lalu, dia mengurai kata dari kata kunci yang sudah ter-index di database sebelumnya.

Sehingga kata kunci yang ada di database menjadi ‘Nasi’, ‘Nasi’, ‘Padang’, ‘Padang’, ‘Kuning’ dan ‘Sate’.

Maka, ketika seseorang menuliskan kata kunci ‘Sate Padang’, maka yang search engine akan mengeluarkan URL yang sesuai dengan kata kunci tersebut yang tersedia di database.

“Lalu, bagaimana jika seseorang menuliskan “Nasinya Padang”? Sedangkan dalam database tidak ada kata kunci ‘Nasinya’,” ucap Fuadit.

“Maka kita harus perluas kata kunci yang ada di database menggunakan sinonim. Pada dasarnya kita membutuhkan kamus sinonim,” Tambah Fuadit.

Kamus sinonim sendiri merupakan kata-kata yang di kelompokkan berdasarkan maknanya untuk dijadikan algoritma.

Jadi, data yang ada di database akan bertambah sesuai dengan sinonim kata kunci yang ada sebelumnya.

Dengan begitu, ketika menuliskan ‘Nasinya Padang’ maka akan keluar URL yang sudah ter-index di dalam database.

Fuadit juga memberikan kasus baru. Bagaimana hasilnya jika seseorang menuliskan kata kunci ‘Saya ingin nasi padang’.

Tentu tidak akan muncul di search engine yang di buat. Karena tidak ada kata kunci ‘Aku ingin’ di dalam database.

“Sebenarnya kasus tersebut bisa saja di selesaikan menggunakan algoritma Stop Words untuk mengatur input agar tidak menghilangkan kata yang tidak ingin urus algoritmanya,” ucap Fuadit.

Lalu, bagaimana dengan kesalahan ejaan, urutan kata kunci berdasarkan peringkat, kepada siapa itu akan di tampilkan, apa parameternya, di urutkan berdasarkan abjad atau bagaimana, apakah menggunakan waktu, atau seberapa banyak kata yang muncul dalam sebuah website?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu harus bisa di jawab dengan algoritma agar sebuah search engine bisa optimal.

Fuadit mengatakan kalau saat ini kita belum bisa membuat algoritma tersebut. Hal tersebut juga menunjukkan kalau kita belum bisa mengalahkan Google dalam membuat search engine.

“Bahkan perusahaan sekelas Microsoft dengan search engine miliknya bernama Bing belum bisa bersaing dengan Google,” tambah Fuadit.

Itulah kenapa pembuatan search engine sangatlah sulit. Butuh banyak resources, dukungan bahkan biaya untuk membuatnya.

Jadi, apakah mungkin jika Indonesia membuat search engine sendiri? Tentu akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan juga resources serta biaya yang besar juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.