Khutbah Jumat Bulan Muharram 1444 H, Keutamaan Bulan Muharram

puncak-media.com – Teks Khutbah Jum’at bulan Muharram 1444 H dengan tema Keutamaan Bulan Muharram dapat Anda temukan pada artikel berikut ini.

Berikut ini adalah teks singkat khutbah jumat bulan muharram 2022 dengan tema keutamaan bulan muharram.

Memahami apa saja keutamaan bulan Muharram dalam Islam penting dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bulan pertama penanggalan Hijriah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa.

Keutamaan bulan muharram dalam teks khutbah jumat di bawah ini dan bisa menjadi rekomendasi bagi para khatib sholat jum’at.

Melansir dari Ngaji.id, inilah teks pendek khutbah Jumat Muharram 2022 bertema Keutamaan Bulan Muharram, senada dengan penyampaian Ustadz Ahmad Sabiq, Lc.

Khutbah Jum’at Bulan Muharram :

Khotbah Pertama

Jamaah Jum’at yang semoga selalu mendapat limpahan Rahmat dan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus di tengah kota Mekah, jantung Jazirah Arab. Saat itu orang Arab sudah mengenal bulan, hari, tanggal, dan penanggalan. Satu hal yang mereka tidak tahu adalah tahun. Oleh karena itu, mereka masih menggunakan tahun untuk acara-acara besar.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka apa yang menjadi norma bangsa Arab saat itu, dibiarkan saja asalkan tidak bertentangan dengan syariat.

Penggunaan nama hari, bulan, dibiarkan begitu saja oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diubah. Hanya hal-hal yang berkaitan dengan hari, tanggal, dan bulan yang bertentangan dengan dasar-dasar syariat Islam, itulah yang diperbaiki Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pertimbangkan sebagai contoh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ لاَ لاَ امَةَ لاَ

“Tidak dibenarkan menganggap suatu penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan menganggap sial, juga tidak dibenarkan menganggap sial karena tempatnya, juga tidak dibenarkan menganggap sial. keberuntungan di bulan Safar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)[1]

Ketika Islam menyebar ke Nusantara, di tanah Jawa Dwipa ini, penanggalan yang berlaku adalah penanggalan Saka, salinan Aji Saka dari Negara Hindustan.

Pada abad ke-17 pada masa Sultan Agung Mataram Islam, penanggalan Islam yang berasal dari Jazirah Arab digabungkan dengan penanggalan yang berlaku di negeri kita. penanggalan Jawa pada waktu itu. Kemudian muncullah penanggalan Arab yang berbau Jawa.

Adat Jawa saat itu masih membudaya. Mereka masih paham bahwa bulan Muharram yang diistilahkan dengan bulan Suro adalah bulan yang disucikan. Sudah waktunya bagi orang-orang suci untuk mencuci keris mereka.

Mereka percaya bahwa bulan ini adalah bulan sial. Siapapun yang menyelenggarakan acara besar di bulan itu, pasti akan dirugikan.

Dan mereka juga percaya bahwa bulan memiliki kesakralan ini dan itu yang juga harus dikikis dan tidak dibenarkan karena bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.